Logo SP Jasa Raharja Serikat Pekerja Jasa Raharja
Beranda
Aspirasi Panduan
19 September 2025 Admin Pusat Yang Lain-Lain

Mengapa Karakter Lebih Penting dari Kecerdasan

Mengapa Karakter Lebih Penting dari Kecerdasan

Kisah Inspiratif dari Plt Direktur Utama Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana

 

“Sebagai pemimpin, saya sering merenungkan bahwa bangsa dan organisasi akan selamat bukan karena orang-orang paling cerdas, melainkan karena orang-orang yang berkarakter. Inilah pesan Plato yang layak kita resapi bersama.”

 

Plato dalam karyanya Republik pernah memperingatkan: kecerdasan tanpa karakter adalah senjata berbahaya. Ia diibaratkan pedang di tangan anak kecil—tajam, mematikan, namun tanpa arah moral. Kecerdasan sering kali membuat kita terpukau—orang yang cepat berhitung, lihai berargumentasi, atau jenius dalam strategi. Namun Plato menegaskan, keselamatan suatu bangsa bukan ditentukan oleh otak yang brilian, melainkan jiwa yang tertata.

 

Bagi Plato, karakter adalah keseimbangan antara akal, semangat, dan nafsu. Ia menjadi fondasi agar seseorang tidak dikuasai keserakahan atau amarah, sekalipun ia sangat cerdas. Kecerdasan tanpa karakter berisiko melahirkan manipulasi; kemampuan berpikir digunakan bukan untuk kebenaran, melainkan untuk menipu, menguasai, atau mengakali hukum.

Sejarah pun telah memberi banyak pelajaran. Tak sedikit orang jenius yang justru menghancurkan bangsanya karena kehilangan rem moral. Teknologi, politik, bahkan ekonomi bisa dijadikan alat penindasan. Tanpa karakter, kecerdasan hanya mempercepat kehancuran.

 

Plato meyakini bahwa pendidikan sejati adalah pembentukan jiwa, bukan sekadar penajaman logika. Anak yang hanya dilatih berhitung, tanpa diajarkan keberanian, keadilan, atau pengendalian diri, akan tumbuh menjadi pintar namun rapuh. Sebaliknya, mereka yang ditempa karakternya akan mampu berdiri teguh, meski mungkin tak selalu paling cerdas.

 

Di sinilah pentingnya hadir pemimpin berkarakter. Bangsa bisa tetap selamat meski dipimpin orang dengan kecerdasan biasa, selama ia jujur dan adil. Tetapi bangsa pasti terjerumus bila dipimpin orang yang sangat cerdas namun licik. Karakterlah yang menentukan arah, sedangkan kecerdasan hanyalah mesin yang berjalan sesuai arah itu.

Plato mengibaratkan hidup seperti kapal. Kecerdasan adalah layar yang membuat kapal melaju kencang. Namun karakter adalah kompas yang menentukan arah. Layar tanpa kompas hanya akan menyesatkan. Semakin besar layarnya, semakin jauh pula kapal terseret ke jurang yang salah.

 

Kita pun melihat hal ini dalam keseharian. Orang cerdas bisa saja menipu, tetapi orang berkarakter tahu kapan harus menahan diri. Orang cerdas mampu memenangkan debat, tetapi orang berkarakter memastikan kebenaran tidak dikorbankan demi ego. Kecerdasan membuat orang dikagumi, namun karakterlah yang membuat orang dipercaya.

Bagi Plato, masyarakat yang sehat bukanlah kumpulan individu jenius, melainkan komunitas manusia berkarakter. Kecerdasan bisa menjadi hiasan, tetapi karakter adalah fondasi. Tanpa fondasi, bangunan sebesar apapun tidak akan bertahan lama.

 

Pertanyaan yang sepatutnya kita renungkan bukanlah “Seberapa cerdas aku?” melainkan “Seberapa kuat karakternya aku?”. Sebab kecerdasan hanyalah alat. Tanpa karakter, ia hanya bayangan kebaikan—bukan wujudnya. Dan dalam pandangan Plato, kebaikanlah—bukan sekadar kepintaran—yang membuat hidup manusia dan bangsa benar-benar berarti.