Indahnya Bekerja: Pesan Syukur Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80
Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke 80, Serikat Pekerja Jasa Raharja (SPJR) menurunkan sebuah tulisan yang berjudul INDAHNYA BEKERJA karya sahabat Serikat Pekerja sdr. M. Rubiul Yatim.
Tulisan ini sebagai bentuk rasa syukur & pengingat atau nasihat bagi kita yang sehari-hari bekerja mencari nafkah untuk keluarga dan masa depan yang lebih baik serta sebagai wujud memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Semoga tulisan ini bermanfaat, menjadi ladang amal bagi yang menulis, membaca dan menyebarkannya. MERDEKA...💪🏽🇮🇩
INDAHNYA BEKERJA
Oleh: Muhamad Rubiul Yatim
Beberapa waktu belakangan ini kembali viral berita tentang terjadinya kerumunan orang yang berbondong-bondong antri ingin melamar pekerjaan di toko retail. Diperkirakan lebih dari 1000 orang mengular berkumpul dan berharap untuk menjadi karyawan di toko tersebut yang ternyata hanya membuka lowongan pekerjaan untuk 50 orang saja.
Tentunya kondisi dan realita adanya antrian orang yang ingin bekerja itu menjadi pemandangan yang sangat memprihatinkan. Dikarenakan hal ini menggambarkan secara jelas betapa banyaknya warga masyarakat yang masih menganggur tidak bekerja di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi yaitu yang sangat melimpah sumber daya alamnya.
Aktivitas bekerja di suatu perusahaan ternyata menjadi suatu kegiatan yang selalu diperebutkan oleh banyak orang. Hal ini disebabkan aktivitas bekerja itu memiliki korelasi erat dengan pemenuhan atas kebutuhan hidup. Kebutuhan yang semakin hari nilai dan nominalnya bukan semakin kecil dan ringan tetapi justru semakin besar dan berat.
Maka dari itu, bagi setiap orang yang telah memiliki suatu pekerjaan di perusahaan atau lembaga formal di negara ini maka sudah sepatutnya mensyukuri akan nikmat pekerjaan tersebut ke hadirat Allah Azza wa Jalla. Terlebih jika dikaitkan dengan kondisi resesi ekonomi yang tengah mengancam dunia saat ini dengan terjadinya berbagai peperangan antar negara. Belum lagi ditambah dengan kenyataan di depan mata akan banyaknya pemecatan karyawan (PHK) di berbagai perusahaan yang mengalami pailit dan bangkrut.
Bekerja di suatu perusahaan atau lembaga bisnis yang bonafid dan eksis di tengah badai dan prahara ketidakpastian merupakan sesuatu hal yang sangat terasa mahal dan begitu berharga.
Apalagi ketika gonjang ganjing ekonomi tidak juga kunjung berakhir dan terus bermunculan akibat ulah para politikus dan spekulan ekonomi yang rakus dan serakah terhadap dunia ini. Tentu hal ini akan berdampak pada pengelolaan harta ekonomi yang hanya dikuasai dan dinikmati oleh segelintir orang saja. Hal yang pastinya akan mengakibatkan semakin dalamnya jurang pemisah di tengah masyarakat; khususnya bagi yang tidak memiliki pekerjaan, sehingga menimbulkan ketimpangan ekonomi yang tinggi dan tajam antara si kaya dan si miskin.
Oleh karena itu, memiliki pekerjaan dan mendapatkan penghasilan dari pekerjaan tetap itu adalah sesuatu nikmat yang indah dan anugerah yang besar. Tidak semua orang diberi kesempatan dan peluang oleh Allah SWT untuk memiliki pekerjaan yang dapat memberikan jaminan dan ketenangan dalam menjalani hidup sehari-hari.
Hal terpenting yang harus dijaga dan diperhatikan dalam menjalani berbagai profesi dan aktivitas pekerjaan tersebut adalah hendaknya setiap orang senantiasa meniatkan seluruh aktivitasnya itu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena tujuan dan muara dari seluruh kegiatan hidup kita di dunia ini adalah semata-mata hanya untuk mencari rida Allah Azza wa Jalla.
Hal ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla yang berbunyi:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ
Artinya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS Surah Adh-Dhāriyāt [51] ayat 56)
dan firman Allah SWT lainnya:
قُلۡ إِنَّ صَلَاتِی وَنُسُكِی وَمَحۡیَایَ وَمَمَاتِی لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Artinya: "Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam." (QS Al-Anʿām [6] ayat 162)
Melalui dua ayat di atas, sangat jelas terpampang bahwa motivasi utama hamba Allah dalam menunaikan aktivitas bekerjanya adalah untuk meraih keridaan Allah SWT. Hal ini tentunya memiliki konsekuensi logis bahwa segala macam bentuk pekerjaan mencari nafkah itu harus dilakukan dengan cara yang halal dan baik karena ia merupakan bagian dari ibadah. Tidak boleh dalam prosesi mencari rezeki itu dilakukan dengan cara yang haram dan melanggar nilai-nilai serta prinsip agama.
Bekerja dalam konsep ajaran Ilahi merupakan salah satu manifestasi bakti terhadap Allah SWT dan bentuk ikhtiar hidup di dunia yang sifatnya muamalah. Tujuan utamanya adalah untuk menggapai dan menjemput rezeki yang memang telah dipersiapkan atau dijatahkan oleh Allah Azza wa Jalla.
Oleh karenanya, hasil akhir dari bekerja yaitu berupa gaji (harta), jabatan, fasilitas dan manfaat dunia lainnya bukanlah target yang akan dinilai oleh Sang Pemilik Rezeki; Allah SWT, tetapi proses untuk memperolehnya itu yang justru akan dinilai dan dihisab kelak di hari kiamat. Hal ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla yang berbunyi:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: " Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At Taubah [9] ayat 105)
Ketika dalam upaya mendapatkan dunia dan isinya digapai melalui cara-cara yang diharamkan dan dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla maka dampak buruk akan diterimanya baik di dunia apalagi di akhirat. Adapun ketika upaya menggapainya dengan cara-cara yang dihalalkan dan diberkahi oleh Allah SWT maka kenikmatan dan keselamatannya tentu akan diperoleh di dunia dan juga tentunya di akhirat.
Tentu orang yang cerdas dan berpikir panjang hingga ke akhirat akan betul-betul mempertimbangkan aktivitas bekerjanya dalam upaya mendapatkan penghasilan. Cara manipulasi data, menipu, mencuri / korupsi, suap-menyuap, memfitnah / membunuh karakter, penyalahgunaan wewenang dan berbagai kejahatan lainnya dalam dunia pekerjaan tidak akan pernah dilakukan walaupun nominal yang akan didapat atau posisi yang akan diraih sangatlah besar dan menguntungkan. Perhatikan firman Allah Azza wa Jalla yang berbunyi:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS Al Baqarah [2] ayat 188)
Oleh karena itu, upayakan selalu selektif dan penuh kewaspadaan pada saat beraktivitas bekerja dan melakukan kegiatan mencari nafkah untuk diri dan keluarga. Jangan biarkan iblis dan setan menghiasi dan menjadikan indah perbuatan dosa dan maksiat sehingga terkesan menjadi suatu hal yang wajar dan lumrah dalam upaya memperoleh harta. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah [2] ayat 168)
Raihlah kehidupan dunia yang sementara dan sekejap ini dengan cara yang baik, benar dan diberkahi oleh Allah Azza wa Jalla. Hal ini tentunya akan berdampak positif untuk kehidupan di akhirat yaitu berupa balasan surga atau neraka yang kekal abadi selamanya.
Al fakir, MRY